Guru yang Panjang Umurnya, Panjang Pula Warisannya

SWARANATA – Dalam perjalanan kami pulang dari Lombok menuju Surabaya, seorang murid yang berusia 50-an bercerita tentang gurunya. Ia pernah belajar langsung kepada seorang guru yang Allah karuniai usia hingga 115 tahun.

Usia yang sangat panjang itu tidak membuat ingatannya melemah. Penglihatannya tetap luar biasa. Bahkan untuk membaca kitab Arab gundul yang tebalnya kira-kira 10 sentimeter, beliau tidak membutuhkan kacamata.

Sang murid mengenang bagaimana gurunya mendidik dengan cara yang sangat klasik: satu murid, satu guru, berhadapan langsung. Ketika sedang belajar, sang murid membuka kitab yang tebal itu dan mulai membaca.

Baru saja beberapa bagian dibaca, gurunya sudah berkomentar, “Kurang maju sedikit… atau kurang mundur sedikit.” Seolah-olah beliau mengetahui persis letak pembahasan yang sedang dibaca.

Setelah itu, beliau menjelaskan makna dan kandungan kitab tersebut dari ingatannya. Jika ada murid lain datang ketika beliau sedang membimbing, murid itu diminta menunggu di luar, bahkan kadang disuruh pulang dan kembali beberapa saat kemudian.

Begitu kuat penghormatan beliau kepada proses belajar dan begitu serius beliau memberikan perhatian kepada setiap murid. Di usia 115 tahun, beliau memang mulai mengalami penurunan pendengaran. Jika ingin berbicara dengannya, seseorang harus mendekat ke telinganya. Tetapi ilmu, ingatan, dan penglihatannya masih begitu kuat.

Lalu tibalah masa-masa terakhir dalam kehidupan sang guru. Kepada murid yang kini mengantar kami ke bandara itu, beliau pernah berkata, “Besok kamu datang.” Tidak ada yang menyangka bahwa “besok” itu akan menjadi pertemuan terakhir mereka.

Hari itu beliau masih makan mie dan minum kopi. Mienya dimakan setengah, kemudian beliau berkata kepada muridnya, “Ini kamu habiskan.” Sederhana sekali. Tidak ada suasana dramatis.

Tidak ada tanda-tanda bahwa itulah pertemuan terakhir. Keesokan harinya beliau masuk rumah sakit karena kondisi usia lanjut. Sekitar satu bulan kemudian, beliau wafat. Tidak ada riwayat penyakit khusus yang panjang.

Beliau pergi setelah menempuh perjalanan hidup yang sangat panjang, meninggalkan kitab-kitab, ilmu, kenangan, dan murid-murid yang pernah ditempa olehnya.

Dan mungkin di sinilah letak pelajaran yang paling dalam dari kisah tersebut. Umur panjang bukan hanya tentang berapa lama seseorang diberi kesempatan hidup, tetapi tentang apa yang berhasil dipersiapkan selama kehidupan itu berlangsung.

Allah memberi sang guru usia yang panjang, ilmu yang kuat, ingatan yang terjaga, dan kesempatan untuk menanamkan ilmu itu kepada murid-muridnya. Salah seorang muridnya kini menjadi salah seorang tuan guru yang dihormati di Pulau Lombok.

Ketika kami tiba di awal bulan Rabiul Awal, jadwal beliau sudah sangat padat. Banyak jamaah ingin bertemu dan menghadiri majelisnya sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.

Value dari kisah ini bukan sekadar tentang seorang guru yang mampu mengingat kitab hingga usia 115 tahun. Lebih dari itu, kisah ini berbicara tentang warisan. Seorang guru mungkin akhirnya meninggalkan dunia, tetapi ilmu yang telah ia tanamkan dapat terus berjalan melalui muridnya.

Sang guru telah wafat, tetapi ketika muridnya mengajarkan ilmu, membimbing jamaah, dan meneruskan nilai-nilai yang dahulu ia terima, sesungguhnya sebagian dari gurunya masih hidup di tengah masyarakat.

Barangkali inilah salah satu bentuk persiapan terbaik yang dapat Allah berikan kepada seorang hamba: hidup cukup panjang untuk menanam ilmu, memiliki murid yang mau menerima dan mengamalkannya, lalu meninggalkan dunia dengan warisan yang terus memberi manfaat.

Guru itu telah wafat. Tetapi setiap kali muridnya mengajarkan ilmu, sesungguhnya kita sedang menyaksikan bahwa sebagian dari gurunya masih hidup.

Praya Lombok, Ahad 16 Agustus 2026

Iwan Muhajirin

Serial Perjalanan Spritual di Tanah Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *